Terapi Anti Retroviral

ART adalah sarana yang paling kuat untuk program menjaga mata pencaharian bagi keluarga yang terimbas AIDS. Terapi ini menjaga kesehatan orang yang hidup dengan HIV (ODHA), yang memungkinkan mereka, khususnya mereka yang miskin untuk terus bekerja dan mendukung diri mereka sendiri dan keluarganya. Lepas dari besarnya upaya yang dilakukan, hanya satu diantara empat orang yang memerlukan terapi anti retroviral (ART) di asia yang menerimanya.
Negara-negara di Asia memiliki sumber daya dan kemampuan untuk memberikan cakupan 80% ART bagi penduduk yang memerlukannya. Sebagian besar pemerintah di negara Asia memiliki kapasitas untuk menyediakan pengobatan antiretroviral lini pertama. Biaya untuk ini sekitar $450 per orang per tahun, tanpa memperhitungkan biaya profesional dan infrastruktur kesehatan. Program – program pengobatan hendaknya tidak mencakup biaya obat – obatan, namun juga terkait dengan tes laboratorium dan biaya insidental.
Untuk mendapatkan akses yang lebih baik bagi kaum miskin, perempuan dan anak – anak, biaya transportasi untuk mendatangi pusat – pusat ART hendaknya di subsidi oleh program AIDS. Pemerintah di negara – negara Asia hendaknya membuat rencana jangka panjang untuk menjamin obat lini kedua dalam program nasional mereka yang biaya tahunannya saat ini sekitar $5000 per pasien per tahun. Strategi untuk menurunkan harga obat – obatan hendaknya juga dijajaki. Strategi ini mencakup pengadaan dibawah satu atap, negosiasi bersama, pengimporan pararel dan bila diperlukan dengan mengajukan wajib izin. 
Pemerintah hendaknya mencabut dan mengamandemen undang – undang atau peraturan – peraturan yang mengandung diskriminasi terkait HIV, Khususnya yang membatasi akses perawatan kesehatan, perawatan medis dan bentuk – bentuk asuransi laninnya. Stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV dapat dikurangi. Ini dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan dan dukungan atas upaya – upaya yang dilakukan oleh ODHA untuk mengorganisasikan diri sebagai advokat, pendidik dan aktivis dan dengan memperkuat kemitraan dengan media, penyedia layanan kesehatan, organisasi pemerintah dan organisasi masyarakat sipil. 
Organisasi komunitas termasuk yang mewakili kelompok yang paling berisiko dan ODHA, hendaknya dilibatkan dalam merancang, melaksanakan dan memantau progra perawatan dan pengobatan. Sekitar $0.8 milliar diperlukan untuk merawat 80% dari orang dewasa dan anak – anak yang memenuhi syarat pada tahun 2007. Jumlah ini terjangkau sebagian besar negara, yang masih memiliki prevalensi yang masih rendah. 


Sumber : UNAIDS Regional Support Team for Asia and the Pacific “Mendefinisikan kembali AIDS di Asia, Sub. Tentang Perawatan”

Baca Selengkapnya......

Penularan HIV dapat dihentikan TOTAL

Ada sebuah hasil penelitian yang banyak menjadi rujukan di Konferensi AIDS Wina tahun lalu yaitu hasil penelitian Deborah Donell dkk yang di publikasikan di Lancet pada 12 Juni 2010 yang berjudul “Heterosexual HIB-1 transmission after initiation of ART : a prospective cohort analysis”. ODHA yang minum ARV akan mengurangi penularan ke pasangan heterosexualnya sebanyak 92%.
Penelitian ini menyimpulkan pentingnya memperluas dan meningkatkan jumlah tes HIV untuk selanjutnya diteruskan dengan pengobatan. Penelitian lain, sebuah penelitian internasional besar (HPTN 052) oleh Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi Amerika yang dimulai sejak April 2005.
Penelitian itu mengikutsertakan 1.763 pasangan (97% pasangan heterosexual) dari sembilan negara. Pengobatan ARV segera setelah setelah di diagnosis ternyata mengurangi angka penularan 96%. Perbedaan tersebut amat signifikan sehingga penelitian yang dijadwalkan selesai pada 2015 terpaksa dihentikan. Agar adil semua ODHA yang diteliti segera mendapatkan pengobatan ARV. 
Jadi kita optimis bila pengobatan ARV yang dapat mencegah penularan HIV sebesar 96%, bila dikombinasikan dengan upaya pencegahan penularan ibu HIV ke bayinya, dikombinasikan dengan sirkumsisi/sunat, digabung dengan upaya pengobatan penyakit menular seksual, upaya pemakaian gel tenofovir per vaginal, serta upaya struktural untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatan pendidikan masyarakat, memperjuangkan kesetaraan gender, dan upaya perubahan prilaku (ABCD : Abstinence, Be faithful, Condom, no Drugs) niscaya kita bisa mencegah penularan HIV secara total.

Sumber : Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM

Baca Selengkapnya......

Waria Kini Diakui di Paspor Australia, Ada Pilihan Jenis Kelamin untuk Kaum 'Waria'

CANBERRA - Kejutan dari pemerintah Australia. Kini di paspor yang dikeluarkan negara Kangguru itu ada tiga pilihan gender, yaitu laki-laki, perempuan, dan 'belum ditentukan'. Pilihan tiga opsi gender ini, menurut pemerintah Australia, untuk menghilangkan diskriminasi atas individu yang menempuh jalan transgender. Dengan demikian, transgender Australia kini dapat menyantumkan pilihan mereka di paspor dengan tanda 'X'. Tapi, ada syaratnya. Ketegasan kelamin transgender itu harus punya bukti medis, dalam hal ini surat dari dokter. Sebelumnya, lazimnya di negara-negara lain pilihan gender dalam paspor hanya dua, yaitu pria dan perempuan. Individu tidak dibolehkan mengubah gender dalam paspor mereka kecuali operasi kelamin. Senator Louse Pratt, yang punya rekan perempuan tapi sekarang diakui sebagai pria, mengatakan ini adalah terobosan penting bagi Australia. "Tanda 'X' jadi penting, karena ada orang-orang yang merasa ambigu dengan gender mereka," kata dia. "Ini penting untuk mengakui hak azazi mereka," sambung dia. Menlu Australia, Kevin Rudd, mengatakan aturan baru paspor ini akan menghapus diskriminasi gender dan orientasi seksual di bandara. Jaksa Agung Robert McClelland mengatakan aturan ini akan berdampak pada sejumlah warga Australia yang selama ini mendapat hambatan di bandara. Sumber REPUBLIKA.CO.ID,

Baca Selengkapnya......

AIDS di Kota Cilegon, Banten: PSK Jadi ‘Sasaran Tembak’

Ketika kasus HIV/AIDS mulai ’meresahkan’, maka langkah yang muncul sering tidak rasional dan cenderung mencari ’kambing hitam’. Itulah yang terjadi di banyak daerah. ‘Sasaran tembak’ yang empuk adalah pekerja seks komersial (PSK).

Maka, tidak mengherankan kalau kemudian Dinas Kesehatan Cilegon, Banten, melakukan tes darah kepada puluhan PSK di sejumlah tempat hiburan malam (PSK di Cilegon Dites Darah, www.metrotvnews.com, 11/6-2011).

Pertanyaannya adalah: Apakah PSK di tempat-tempat hiburan malam itu melakukan hubungan seksual di tempat?






Kalau jawabannya YA, maka PSK itu termasuk PSK langsung. Artinya, PSK melakukan transaksi seksual di tempat.

Tapi, kalau jawabannya TIDAK, maka PSK tsb. adalah PSK tidak langsung. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa sebagai orang lain, seperti karyawan, mahasiswi, remaja ABG, pelajar, SPG, dll.

Jika kegiatan transaksi seks terjadi di tempat, maka tempat itu adalah lokasi pelacuran dan PSK-nya adalah PSK langsung.

Disebutkan: “Tak hanya itu, petugas juga membagikan alat kontrasepsi kepada para PSK.” Tidak semua alat kontrasepsi (alat untuk mencegah kehamilan) bisa sekaligus sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual. Hanya kondom yang bisa mencegah kehamilan dan sekaligus mencegah penularan HIV pada saat terjadi hubungan seksual.

Disebutkan pula: ”Itu dilakukan untuk mencegah penyakit HIV/AIDS pada kalangan PSK.” Dalam kaitan ini ada fakta yang dilupakan yaitu yang menularkan HIV kepada PSK adalah laki-laki penduduk Cilegon, asli atau pendatang. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, duda, lajang atau remaja. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat ke istri, pacar, selingkuhan atau PSK.

Penyebaran HIV di masyarakat dapat dilihat dari kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga. Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Cilegon tercatat 203 dengan 34 kematian.

Disebutkan lagi: ”Jumlah tersebut meningkat ketimbang dua tahun lalu.” Pernyataan ini menunjukkan wartawan yang menulis berita ini tidak memahami cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia.

Pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif. Artinya kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga tiap waktu akan bertambah. Bahkan, biar pun banyak kasus kematian tidak akan menurunkan angka laporan kasus.

Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang langkah yang akan diambil Pemkot Cilegon terkait dengan hasil tes HIV terhadap PSK.

Prov Banten sendiri sudah mempunyai peraturan darah (Perda) penanggulangan HIV/AIDS yaitu Perda Pemprov Banten No Tahun , tapi sama seperti perda-perda lain yang ada di Indonesia Perda Banten itu pun tidak menyentuh akar persoalan (Lihat: http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/05/perda-aids-prov-banten-menanggulangi-aids-dengan-pasal-pasal-normatif/).

Kalau saja Pemkot Cilegon mau menerapkan langkah yang konkret dalam memutus mata rantai penyebaran HIV tentulah program ’wajib kondom 100 persen’ diterapkan di tempat-tempat hiburan.

Jika program penanggulangan tidak diterapkan dengan cara-cara yang rasional, maka penyebaran HIV di Kota Cilegon akan terus terjadi. Dan, kasus demi kasus akan terus terdeteksi. ***


Sumber : 
http://regional.kompasiana.com/2011/06/12/aids-di-kota-cilegon-banten-psk-jadi-‘sasaran-tembak’/

Baca Selengkapnya......

Berapa Lama Virus HIV bertahan di Luar Tubuh ?

HIV hanya dapat hidup pada lingkungan tertentu dalam tubuh manusia. Virus ini tidak hidup pada lingkungan di luar tubuh manusia. Ada banyak faktor yang menentukan berapa lama virus itu dapat hidup di luar tubuh. Hal ini bergantung pada kondisi lingkungan tempat virus itu berada. Karena kondisi lingkungan dapat berubah-ubah, sehingga memungkinkan virus dapat bertahan hidup lebih lama. Itulah sebabnya tidak ada satu ketentuan waktu yang sama dalam hal daya tahan hidup HIV di luar tubuh. Tapi secara umum virus itu hanya dapat hidup selama beberapa menit di luar tubuh.



Salah satu faktor lingkungan yang menentukan lamanya virus itu bertahan hidup adalah kelembaban di sekitar virus itu. Virus itu tidak dapat hidup di lingkungan yang kering. Jadi bila virus itu berada dalam cairan tubuh seperti darah atau cairan kelamin yang mengering, virus itu akan mati.
Namun, meskipun di lingkungan basah (seperti kolam renang, pembuangan limbah dsb), virus itu tetap tidak dapat bertahan hidup. Jadi lingkungan yang kering hanya merupakan salah satu kondisi lingkungan di mana virus itu tidak dapat hidup. Dalam lingkungan yang basah pun, jika lingkungan itu berbeda dari yang ada pada tubuh manusia, virus itu tidak akan mampu bertahan hidup. Ingat, virus itu hanya dapat hidup di daerah tertentu yang ada di dalam tubuh manusia. Itulah sebabnya HIV tidak dapat hidup di kolam renang atau pembuangan limbah. Di luar tubuh, virus itu cepat menjadi lemah dan mati. Semakin lama berada di luar tubuh, semakin kecil kemungkinan penularan akan terjadi. Biasanya, virus akan mati dalam beberapa menit setelah berada di luar tubuh. Kesimpulannya, virus hanya dapat bertahan hidup di kondisi lingkungan tertentu yang ada di dalam tubuh manusia. Bila virus itu di luar tubuh, maka ini merupakan lingkungan yang sangat dibencinya dan virus itu tidak dapat bertahan hidup, kecuali bila virus itu masuk ke dalam tubuh orang lain dalam beberapa menit.

Sumber: www.spiritia.or.id

Baca Selengkapnya......

Pemkot Cilegon Lokalisasi Tempat Hiburan

Cilegon : Senin, 27 Juni 2011 14:43 WIB
Pemerintah Kota Cilegon akan melokalisasi tempat hiburan di wilayah jalan lingkar selatan, Kecamatan Cibeber. Musababnya tempat hiburan sangat berdekatan dengan pemukiman warga.

"Kami memang berencana akan melokalisasi tempat hiburan di daerah jalan lingkar selatan, karena selain lokasinya berdekatan dengan masyarakat, juga tempatnya berpencar," kata Wali Kota Cilegon Tb. Iman Ariyadi di Cilegon, Senin (27/6).





Dia menjelaskan, rencana lokalisasi tempat hiburan tersebut sudah dimasukan dalam draft Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Tempat Hiburan yang saat ini masih dalam pembahasan di eksekutif.

"Kami memang masih melakukan kajian atas raperda itu, menginggat untuk menindaklanjuti dan menyerahkan Raperda tersebut ke DPRD Kota Cilegon, harus dilakukan sosialisasi telebih dahulu pada masyarakat," katanya.

Tujuan sosialisasi atas rencana lokalisasi tempat hiburan itu dimaksudkan agar masyarakat mengetahui rencana pemkot, sekaligus melihat tanggapan dari warga.

"Kita tidak bisa gegabah melokaliasi tempat hiburan. Seblum dilaksanakan harus disosialisasikan dulu pada masyarakat guna mengetahui tanggapan warga terhadap rencana itu," ujarnya.

Pemkot Cilegon, kata dia, akan menutup kembali sejumlah tempat hiburan malam yang ada, karena dianggap melanggar peraturan daerah (perda) yang ada.

"Kenapa kami tidak menutup sekaligus tempat hiburan di Cilegon, karena penutupan dilakukan setelah mendapatkan kajian," katanya menjelaskan.

Terkait adanya pro dan kontra terhadap penutupan tempat hiburan melam selama ini terus dilakukan, menurut dia, hal tersebut biasa terjadi.

"Ada yang mengkritik dan menyukai kebijakan wali kota syah-syah saja. Penutupan hiburan malam yang telah dilakukan juga merupakan aspirasi masyarakat," ujarnya.(Ant/ICH)

Sumber : Metrotvnews.com

Baca Selengkapnya......

Selamat Tinggal AIDS di 2020

New York, Penyakit mematikan AIDS (Acquired immune deficiency syndrome) adalah dampak lanjutan dari penyakit menurunnya kekebalan tubuh atau HIV (Human Immunodeficiency Virus). Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyerukan aksi global untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2020.

Dalam membuka pertemuan General Assembly PBB di New York, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon mengatakan kepada para presiden, menteri dan diplomat dari seluruh dunia bahwa jika semua mitra bersatu dan terlibat maka penyakit AIDS bisa diakhiri.




"Hari ini kita berkumpul untuk mengakhiri AIDS. Tujuan kita adalah tidak ada lagi infeksi baru, tidak ada lagi stigma dan kematian yang terkait dengan AIDS," ujar Ban Ki-Moon, seperti dikutip dari ABCNews.go.com, Kamis (9/6/2011).

Ban mengungkapkan bahwa pada tahun 2001 ketika para pemimpin dunia mengambil tanggung jawab untuk mengendalikan epidemi, maka infeksi baru telah menurun sebesar 20 persen. Dan saat 5 tahun lalu ketika para pemimpin berjanji untuk memberikan pelayanan, perawatan dan dukungan terhadap AIDS maka jumlah kematian berkurang 20 persen.

Hal ini menunjukkan jika semua pihak terlibat dan mau bertanggung jawab dalam mengendalikan epidemi, maka penyakit AIDS bisa diakhiri.

Direktur eksekutif PBB untuk AIDS, Michel Sidibe menuturkan bahwa visi menciptakan dunia bebas AIDS bisa terwujud. Untuk mewujudkannya diperlukan revolusi dalam pencegahan AIDS dan melibatkan gerakan kaum muda sebagai agen perubahan.

Selain itu juga perlu kerja keras mengakhiri diskriminasi dalam pemberian layanan pada kelompok yang paling banyak terkena infeksi ini seperti imigran, narapidana, orang yang menyuntikkan narkoba, pekerja seks dan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.

"Sekitar 1,8 juta orang meninggal karena AIDS setiap tahunnya di negara berkembang dan di negara maju dan ada 9 juta orang di dunia yang menunggu pengobatan. AIDS telah menjadi penyakit kronis," ujar Sidibe.

Presiden Nigeria Goodluck Jonathan menuturkan sebagian cara dalam memerangi penyebaran HIV/AIDS di negaranya adalah bekerja sama dengan industri film lokal untuk mempromosikan perubahan perilaku dan kesadaran di kalangan anak muda.

"Kita tidak bisa menang dalam melawan momok HIV/AIDS tanpa adanya solidaritas internasional," ujar Jonathan.

Virus yang mematikan ini akan menyerang sistem kekebalan yang membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan penyakit, sehingga tubuh lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Jika gejala ini tidak segera diobati, maka bisa menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang merupakan penyakit mematikan. AIDS timbul sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV di dalam tubuh manusia.

Ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang. Gejala dan tanda awal dari HIV termasuk demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha.

Pusat pengendalian penyakit (Center for Disease Control/CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu:

Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan
Batuk kering
Demam berulang atau berkeringat saat malam hari
Kelelahan
Diare yang lebih dari seminggu
Kehilangan memori
Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.

Salah satu cara untuk mendeteksinya adalah dengan mengukur jumlah sel-sel darah putih, karena biasanya seseorang dengan HIV akan memiliki jumlah sel darah putih yang kecil. HIV bukan merupakan penyakit yang mudah untuk didiagnosis, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu kenali gejala yang ada dan melakukan pemeriksaan ke dokter.

HIV menular melalui:

Hubungan kelamin dan hubungan seks oral atau melalui anus tanpa alat pengaman dan sering gonta ganti pasangan
Transfusi darah
Penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan
Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui.


Sumber : www.detikhealth.com

Baca Selengkapnya......

Jutaan Bayi Di Indonesia Berpotensi Terinfeksi HIV/AIDS

Jutaan bayi di Indonesia berpotensi tertular HIV/AIDS dari ibunya apabila tidak ada upaya serius dari semua pihak untuk melakukan pencegahan.
"Potensi perempuan berisiko terkena HIV karena bersuami pria yang mengidap virus tersebut adalah sebanyak 1,6 juta orang, sedangkan data hingga Maret 2011 menyebutkan sebanyak 2.160 ibu rumah tangga telah tertular," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi, dalam acara workshop wartawan dan populasi kunci dalam strategi penanggulanan HIV/AIDS di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan, ibu rumah tangga merupakan kalangan terinfeksi HIV/AIDS tertinggi dari kalangan perempuan di Indonesia saat ini, jauh melebihi penjaja seks yang jumlahnya hanya mencapai 457 orang.
Untuk menghindari jumlah orang terinfeksi yang semakin tinggi, khususnya di kalangan anak yang tertular dari orang tuanya, KPA melakukan sejumlah langkah strategis.


Beberapa langkah strategis tersebut adalah pelatihan bagi petugas kesehatan dan penambahan fasilitas pengobatan bagi balita yang terinfeksi HIV/AIDS pada sejumlah rumah sakit di beberapa daerah yang dianggap bervalensi tinggi.
"Kami juga sedang memperbanyak sosialisasi kepada perempuan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS agar melakukan pengobatan ARV (metode pengobatan bagi orang terinfeksi HIV) selama hamil agar mempersempit kemungkinan penularan," kata dia.
Sementara itu, sepanjang 2011, pemerintah menargetkan sejumlah indikator pencapaian target MDG's di bidang penanganan kasus HIV/AIDS berdasarkan instruksi presiden nomor 3 tahun 2010.
Sejumlah indikator yang ditargetkan adalah peningkatan signifikan penggunaan kondom pada seks berisiko sebesar 55 persen, adanya peningkatan persentanse remaja usia 15-24 tahun yang memahami seputar HIV/AIDS hingga 70 persen, dan peningkatan jumlah terinfeksi HIV/AIDS yang mendapatkan pengobatan ARV sebanyak 70 persen.
Selain itu, KPA juga menargetkan upaya pencegahan dapat mencapai 250 kabupaten/kota di seluruh Indonesia pada akhir 2011, dan prevelensi penularan per 100 ribu penduduk dapat mencapai di bawah 0,5.
"Sayangnya, angka yang kita capai saat ini masih jauh dari itu, perlu kerja keras dari berbagai pihak, termasuk jurnalis dan populasi kunci," kata dia.
Sumber : Antara, May 18, 2011

Baca Selengkapnya......

Di Bekasi Perda Efektif Turunkan Kasus HIV

Bekasi (ANTARA News) - DPRD Kota Bekasi menilai adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS sangat efektif dalam menekan bertambahnya penderita baru, karena berimplikasi hukum bagi pihak yang menularkan penyakit mematikan tersebut.
Anggota DPRD Kota Bekasi dari Komisi D, Sardi Effendi, di Bekasi, Senin, mengatakan, Perda cukup efektif dalam meredam dan mencegah penularan penyakit bila diterapkan secara konsisten serta pemerintah daerah memiliki komitmen kuat dalam melaksanakan butir-butir Perda.
"Meski sumber HIV/AIDS sendiri masih sulit diputus seperti penularan melalui jarum suntik dan seks bebas, namun adanya Perda membuat penertiban bisa jadi akan lebih mudah," ujarnya.
Dengan adanya Perda, tempat-tempat prostitusi akan lebih mudah dihentikan pengoperasiannya, begitu juga dengan kehati-hatian dari aparat kesehatan dalam menggunakan peralatan suntik untuk kepentingan umum.
Untuk penularan HIV/ADIS melalui narkoba, pemerintah kota mempunyai posisi tawar kuat dengan meminta aparat untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan narkoba terutama penggunaan jarum suntik.
Perda tersebut, masih menurut anggota DPRD dari PKS itu, juga memberikan perlindungan bagi penderita HIV/AIDS dengan adanya sanksi tegas bagi pengelola rumah sakit yang menolak pasien tertular HIV/AIDS.

Selama ini kasus-kasus HIV/AIDS di kota Bekasi terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kota Bekasi termasuk daerah yang mendapatkan perhatian khusus atas tingginya kasus HIV/AIDS.Adanya Perda diharapkan bisa meningkatkan kinerja dari komite penanggulangan AIDS kota Bekasi dalam mencegah makin menjamurnya penderita HIV/AIDS di daerah itu.

"Komite jangan hanya sekedar memberikan penyuluhan tapi juga berkordinasi dengan instansi terkait di kota Bekasi dalam mengambil langkah-langkah penting dan turun langsung mencegah perbuatan yang berpotensi menularkan HIV/AIDS," ujarnya.
Pengurus Komite Penanggulangai AIDS (KPA) Kota Bekasi, Hari Bagianto menyambut baik rencana pemerintah kota (Pemkot) membuat dan memberlakukan Perda pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di kota Bekasi.
Ia mengatakan, Perda yang akan disahkan itu bermanfaat dalam melindungi masyarakat dan memutus mata rantai penularan HIV/AIDS, melalui beberapa program seperti pencegahan pada populasi beresiko, mendidik pelaku beresiko tinggi untuk menjalani hidup sehat, dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam mencegah dan menangulangi HIV/AIDS.
"Adanya Perda Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS makin mengukuhkan keberadaan KPA Kota Bekasi. Perda diharapkan membuat kegiatan KPA bisa lebih marak dan tentunya ditunjang dengan kesediaan Pemkot mengalokasikan dana APBD," ujarnya.
Bagaimana dengan Perda HIV AIDS Cilegon ???

Baca Selengkapnya......

Condom VIAGRA ???

Inovasi dalam urusan hubungan seks terus mengalami peningkatan. Kini para ahli membuat kondom yang didesain dapat membantu pria mempertahankan supaya ereksi lebih lama.


The Time mengabarkan belum lama ini, sebuah perusahaan bioteknologi asal Inggris berhasil menciptakan kondom khusus yang dinamakan CSD500. Selain sebagai alat pengaman, kondom ini pun memiliki fungsi lain yakni dapat memperbaiki ereksi, sehingga disebut juga “Viagra Condom". ni kabar baik bagi pria yang punya masalah ereksi. Para pria letoy itu kini punya pilihan, selain pil biru atau yang dikenal viagra, kini ada 'kondom viagra'. Kondom ini bisa membuat ereksi lebih keras dan lama.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa 10 Mei 2011, para desainer di balik peluncuran 'kondom viagra' ini mendapat masukan dari banyak pria. Mereka rata-rata mengeluh sulitnya mempertahankan ereksi bila mengenakan kondom ketika bercinta. 

Kondom yang bernama CSD500 ini memiliki gel khusus. Gel ini bisa memperbaiki dan memperlancar aliran darah ke penis. Umumnya gel tersebut dipakai untuk memperlancar aliran darah ke jantung. 

Pembuat kondom ini mengklaim pria yang memakai kondom ereksinya lebih keras dan kuat. Mereka juga lebih lama ketika bercinta dengan pasangannya. 

Kondom CSD500 kemungkinan bisa dipasarkan pada tahun ini di Inggris. Kondom ini tengah menunggu persetujuan dari badan yang berwenang untuk mengesahkan penjualan kondom ini. 

James Barder, dari Futura Medical yang membuat kondom mengatakan kondom CSD500 bukan hanya untuk mereka yang punya masalah ereksi tapi bagi mereka yang sering kecewa dengan kondom yang suka slip ketika bercinta.

Baca Selengkapnya......
 
 
 
 
Copyright © KPA Kota Cilegon | Powered by Hengki Siswo Utomo